Tetes Cinta (Puisi)
Galau kesepian membisik qalbu,
Memberi tahta kerinduan yang membeku tajam,
Hingga menusuk pilu qalbu dengan cinta suci,
Angin pun berhembus sayu tapi pasti,
Membawa kabar kepedihan sekaligus bahagia,
Akan hadirnya sayap-sayap malaikat yang gugur,
Namun, pedang-pedang kesedihan siap menerkam,
Bersembunyi di balik putih sucinya yang lembut,
Hingga meneteskan air suci kemerahan,
Bukti tulusnya akan cinta yang suci,
Wahai Pecinta! Biarlah ia menikammu,
Karena hanya dengan itulah,
Cinta dihiasi oleh bunga-bunga mawar bermekaran,
Yang memerah akan tetes-tetes cinta suci itu sendiri.
KADO
K A D O
Tetes gerimis menghujam lembut dedaunan pohon mangga yang berada di tengah kampus. Meninggalkan manik-manik kecil yang bersinar oleh kilau mentari pagi, hingga fatamorgana pelangi membentangi lukisan halaman kampus yang buram oleh lalu-lalang mahasiswa baru. Mungkin, sedikit memperindah kehidupan kampus yang terperangkap oleh rutinitas.
“Oii….!”
Tiba-tiba lamunanku terbang jauh membelah langit hingga membangunkan kesadaran akan kefanaan.
“Ihhh…! Jadi kotor deh. Kalau jalan tuh jangan ngelamun.” Cewek itu menundukkan kepalanya membersihkan sepatunya yang kotor karena kenakalan kakiku yang melangkah tanpa menunggu perintah dulu dariku, mungkin kupecat aja yah? Diamputasi donk… jangan…!
“Eh sorry, maaf banget.”
Cewek itu bangun dengan kepalan tangannya yang terbelenggu keras sekeras tembok di sampingku yang terbuat dari semen bosowa seakan ingin menonjok kepalaku hingga lebur. Hiperbola amat sih pikirku?
Tapi, waktu seakan terhenti, angin seakan tak berhembus, hingga air pun seakan berhenti mengalir, saat mata kami bertemu dalam keheningan. Tapi, mengapa air mata cewek tangan besi itu mengalir, kepalan tangannya pun lebur selebur lava merapi, hingga wajah putih cantiknya pun memucat dalam putihnya kepedihan?
Dia mundur selangkah. Memandang mataku yang penuh keheranan dengan alis yang berkerut.
“Hei! Kamu anggak apa-apa ‘kan? Masa cuma karena sepatu kamu kotor, jadi nangis sih?” Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mundur selangkah demi selangkah hingga membelakangi tubuhku yang terpaku beku membuat kebingungan merasuk batinku.
***
Peristiwa aneh itu terus mengganggu pikiranku hingga susah tidur dibuatnya, bahkan sudah seminggu sejak peristiwa itu. Dalam kamar sederhana ini, tubuhku terbujur kaku dalam hamparan kasur, tempat di mana peraduanku di kala lelah menyerangku, di kala ngantuk membiusku, di kala sakit mendatangiku dan masih banyak lagi ‘di kala’ yang lain. Namun, meskipun demikian tidak dapat memberi ketenangan atas kebingungan yang melanda batinku.
Dari bingung dan banyak pertanyaan yang tak henti-hentinya, bosan pun menghampiri. Daripada bosan mendingan aku melukis aja yah? Dalam beberapa detik, sang pena pun menari-nari di atas pentas kertas yang putih seputih pucatnya cewek itu. Entah sengaja atau tanpa sengaja, kok wajah cewek itu yang aku gambar?
“Dasar! Kamu mengganggu pikiran aku terus tau!” Lembar kertas itu kuremuk dengan tanganku dan melemparnya jauh. Hingga gumpalan kertas tersebut masuk ke bawah ranjang yang tak bisa menenangkan kebingunganku dalam gundah gelisah.
“Kok sampah aku buang ke bawah ranjang sih?” Dengan rasa bersalah aku berdiri menghampiri ranjang dan menunduk mengambil gumpalan kertas itu.
Tanpa sengaja, jemariku menyentuh sebuah benda persegi.
“Ini sih kado. Buat siapa ya?” Aku membolak-balik kado tersebut, hingga menemukan secarik kertas yang menempel mesra di kado itu.
“For Jaka tertanggal 01 Januari 2008” Itu sih jelas namaku. Udah dua tahun yang lalu.
Tanpa menunggu perintah dariku, sepasang tangan ini membongkar kado itu dengan paksa untuk mengobati rasa penasaran yang muncul. Dengan jantung yang berdebar kencang, pupil mata yang melebar, batinku makin terkejut dan bingung melihat foto cewek tangan besi itu ada di dalam kado itu. Perasaanku bingung, membuat kepalaku sakit, pandanganku pun kabur dan semakin buram, tangan yang memeluk kepalaku tak bisa berbuat banyak. Tanpa sadar tubuhku terjatuh hingga kepalaku membentur sesuatu benda tumpul.
***
Mata yang terpejam kubuka sedikit demi sedikit, dengan remang-remang kulihat ibuku tersenyum gembira. Lalu, adikku yang dalam pelukan ibuku tersenyum sambil menangis dan Ayah dengan tegar berdiri di sebelah ibuku. Tapi, ada yang aneh. Seseorang memegang tanganku hangat, lembut rasanya. Namun, maksud kepalaku menoleh tapi tidak bisa soalnya leherku masih terasa amat sakit dan kaku. Siapakah dia?
Tanpa kuduga, tangan lembut itu membelai pipiku dan mengusapnya lembut.
“Kamu uda baikan? Aku khawatir banget tau!” Suara itu menggema lembut. Tapi, sepertinya pernah kudengar. Di mana? Kapan? Didorong rasa penasaran yang mendalam, kupaksakan menoleh. Namun, ibuku melarang dan malah menyuruhku istirahat.
“Kami pulang dulu ya, soalnya adik dan ayahmu mau mandi nih. Dari kemarin mereka belum mandi. Lagian selesaikanlah dulu masalahmu ama Lia.” Mereka pun keluar dan pulang meninggalkan kami berdua dalam kamar yang hening ini.
Di balik kepergian orang tuaku, tersirat pertanyaan besar bagiku. Ada masalah apa aku dengan orang di sebelahku ini? Tapi yang jelas, aku udah dirawat selama sehari semalam dan baru sadarkan diri tadinya.
“Ka…. Aku minta maaf ya?”
“Loh…. Emangnya kamu salah apa? Dan maaf, kalau bisa tahu saya bicara dengan siapa? Bisa tidak kamu perlihatkan wajah kamu?” Seakan orang yang dapat air di gurun pasir, pertanyaanku tercurah tanpa menunggu jawaban satu persatu dari orang di sebelahku.
“Ini aku Lia.” Dia langsung memelukku dan memasung diri tepat di hadapanku.
Betapa kaget aku. Ternyata si tangan besi itu yang duduk di hadapanku sekarang. Tapi, tunggu dulu. Kepalaku sakit sekali dan di dalamnya terngiang-ngiang nama Lia. Lia…. Lia…. Sungguh sakit rasanya hingga tak dapat mendengar suara si tangan besi yang berteriak-teriak.
Akhirnya kuingat. Lia, seseorang yang pernah bersamaku dulu di waktu SMA. Dan juga, dulu dia pacarku, tapi dia ninggalin aku karena kesalahpahaman yang sampai suatu saat aku mencoba menjelaskannya. Namun…. Ah! Kepalaku sakit…. Sekali lagi kedua tanganku memeluk kepala yang seakan mau meledak ini.
“Jaka! Kamu kenapa?” Akhirnya suara itu kudengar dan mencoba menenangkan diriku.
“Aku ingat, kamu Lia bukan? Apa yang kamu cari dari aku setelah ninggalin aku?”
“Jaka, tolong dengerin dulu penjelasan aku. Aku tahu aku bersalah karena tidak mau dengerin penjelasan dari kamu. Hingga membuat kamu kecelakaan dan jadi lupa ingatan.”
“Hah…. Lupa ingatan?” aku hanya termangu menunggu penjelasan dari Lia yang dulunya kujuluki si cewek tangan besi.
“Iya, benar. Kamu lupa ingatan ketika udah ditabrak mobil sewaktu kamu lagi ngejar aku untuk jelasin permasalahan kita dulu. Aku merasa bersalah banget ama kamu. Setelah kejadian itu, kamu pindah ke Makassar untuk berobat dan menetap di sana. Hingga kita tidak bertemu lagi.” Lia menjelaskan secara gamblang.
Akhirnya kuingat semua, Lia sudah kembali ke pelukanku karena bantuanmu ya Allah. Aku bersyukur udah membuat aku lupa ingatan dan ngembaliin ingatan aku. Dan Lia aku harap nantinya kamu jangan nakal ya sebagai senior di kampus. Nganggur sih….
Pengaruh HP Terhadap Motivasi Membaca
Dalam menyonsong zaman yang modern dan global, masyarakat seakan dituntut untuk berusaha tidak tertinggal dalam hal Teknologi Informasi dan Komunikasi yang pada akhirnya kebanyakan individu dalam masyarakat terutama masyarakat menengah ke atas sudah memiliki HP (Hand Phone). Apa pengaruh HP ini terhadap masyarakat? Yang jelas ada pengaruh positif dan negatifnya. Emang sih githu, namun pernahkah kalian pikirkan pengaruhnya terhadap motivasi membaca? Kayaknya pertanyaan ini pas banget ditujukan kepada yang doyan ngechating, smsan, and telponan, terutama para Facebooker yang OL (On Line) di HP. Kira-kira apa yang ada di benak kalian? Jujur aja de….
Sekarang banyak individu yang menyalahartikan fungsi HP, hingga penggunaan HP tidak terposisikan dengan benar sesuai keperluan yang sebenarnya. Maka dari itu, marilah kita memposisikan HP pada tempatnya sesuai keperluan, hingga HP dapat memberi dampak atau pengaruh positif kepada kita, bukan dampak negatifnya. Coba kalian bayangkan sedikit dampak negatif HP jika tidak diposisikan dengan benar dalam hal motivasi membaca. Yakin dan percaya, seumur hidup pun mungkin kalian tidak membaca buku walaupun itu sebuah buku dalam seumur hidup. Jujur aja de, kira-kira berapa sih buku yang kalian baca dalam setahun? Satu, dua, tiga atau empat? Bagi yang memiliki HP, coba kalian selidiki dan ingat-ingat, apakah HP-nya membuat bertambah kurangnya motivasi membaca? Hingga dalam setahun sebuah buku pun tidak pernah terbaca.
Dalam peran, HP memberikan kita pilihan untuk memilih. Memakainya dengan sesuai kebutuhan atau memakainya untuk having fun secara berlebihan. Silahkan kalian pilih di antara keduanya menurut kata hati kalian. Ingat! Hanya ada dua opsi, gak ada tambahan opsi. Karena, hidup itu adalah pilihan yang harus dijalani. Namun, pilihan ini sendiri terkadang dipilih dengan salah, dikarenakan oleh kurangnya nilai-nilai dan moral serta pengetahuan seseorang akan pengaruh HP.
Dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari, menurut Prof. Baihaki Darmawan yang merupakan salah satu dosen di Fakultas Teknologi di Bandung ini, mengatakan bahwa kebanyakan orang yang memiliki HP memiliki konsentrasi yang kurang dalam motivasi membaca buku, meskipun demikian tidak terlalu mempengaruhi terhadap membaca dalam hati jika berkaitan dengan HP, seperti sms, browsing, dan lain-lain. Jadi, bisa disimpulkan bahwa penggunaan HP yang tidak benar akan mempengaruhi motivasi membaca dan akan menguras motivasi itu, kecuali membaca yang satu ini, membaca sms serta yang berkaitan dengan HP itu sendiri.
Segala sesuatu pasti ada solusinya, tapi tergantung usaha pribadi untuk mengusahakan solusi ini. Maka, penulis memberikan satu solusi yang maybe sangat simple, tapi sangat susah bagi pengguna HP. Apa itu solusinya? Kurangin kontak langsung ama HP secara berlebihan. Simple bukan? Tapi, apakah solusi yang nota bene susah ini bisa dijalankan? Kembalikan pada diri pribadi sendiri.
Jalan Suram (Puisi)
Bukan jalan lalu yang ku inginkan
Tapi bukan kepergian yang ku putuskan..
Entah apa arti hidup dan kasih sayang ??
Semakin jauh ku melangkah,,
semakin abstrak arti semuanya
Semakin ku inginkan,,
tapi semakin hancur hidup ini..
Biarkan kebebasan terus hadir dalam kesendirian yang tak berbatas,,
Biarkan sepi yang menemani,,
Jauhkan jiwa dari keramaian dan biarkan kegelapan melindungi setiap hati yang suram..
Bahasa dan Sastra dalam Globalisasi
Bahasa dan Sastra Sebagai Identiti Bangsa Dalam Proses Globalisasi
Pendahuluan
Kita tengah memasuki abad XXI. Abad ini juga merupakan milenium III perhitungan Masehi. Perubahan abad dan perubahan milenium ini diramalkan akan membawa perubahan pula terhadap struktur ekonomi, struktur kekuasaan, dan struktur kebudayaan dunia.
Fenomena paling menonjol yang tengah terjadi pada kurun waktu ini adalah terjadinya proses globalisasi. Proses perubahan inilah yang disebut Alvin Toffler sebagai gelombang ketiga, setelah berlangsung gelombang pertama (agrikultiur) dan gelombang kedua (industri). Perubahan yang demikian menyebabkan terjadinya pula pergeseran kekuasaan dari pusat kekuasaan yang bersumber pada tanah, kemudian kepada kapital atau modal, selanjutnya (dalam gelombang ketiga) kepada penguasaan terhadap informasi (ilmu pengetahuan dan tekhnologi).
Proses globalisasi ini lebih banyak ditakuti daripada dipahami untuk kemudian diantisipasi dengan arif dan cermat. oleh rasa takut dan cemas yang berlebihan itu, antisipasi yang dilakukan cenderung bersifat defensif membangun benteng-benteng pertahanan dan merasa diri sebagai objek daripada subjek di dalam proses perubahan.
Bagaimana dengan bahasa dan sastra? Apakah yang terjadi dengan bahasa dan sastra Indonesia di dalam proses globalisasi? Apakah yang harus dilakukan dan kebijakan yang bagaiman yang harus diambil dalam hubungan sastra Indonesia dalam menghadapi proses globalisasi atau di dalam era pasar bebas?
Mitos Tentang Globalisasi
Mitos yang hidup selama ini tentang globalisasi adalah bahwa proses globalisasi akan membuat dunia seragam. Proses globalisasi akan menghapus identitas dan jati diri . Kebudayaan lokal dan etnis akan ditelan oleh kekuatan budaya besar
atau kekuatan budaya global.
Anggapan atau jalan pikiran yang demikian tidak sepenuhnya benar. Kemajuan teknologi komunikasi memang telah
membuat batas-batas dan jarak menjadi hilang dan tidak berguna. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolgi telah
membuat surutnya peranan kekuasaan ideologi dan kekuasaan negara. Akan tetapi, Jhon Naisbitt dalam bukunya Global
Paradox memperlihatkan hal yang justru bersifat paradoks dari fenomena globalisasi. Di dalam bidang ekonomi,
misalnya, Naisbitt mengatakan “Semakin besar dan semakin terbuka ekonomi dunia, semakin perusahaan-perusahaan
kecil dan sedang akan mendominasi”. Ia di dalam bukunya itu juga mengemukakan pokok-pokok pikiran lain yang
paradoks sehubungan dengan masalah ini. “Semakin kita menjadi universal, tindakan kita semakin bersifat kesukuan”,
“berfikir lokal, bersifat global.” Ketika bahasa Inggris menjadi bahasa kedua bagi semua orang, bahasa pertama, bahasa
ibu mereka, menjadi lebih penting dan dipertahankan dengan lebih giat.
Dari pernyataan Naisbitt itu, kalau kita mempercayai, proses globalisasi tetap menempatkan masalah lokal ataupun
masalah etnis (tribe) sebagai masalah yang penting yang harus dipertimbangkan. Dalam bukunya yang lain Megatrends
2000, Naisbitt juga mengatakan bahwa era yang akan datang adalah era kesenian dan era pariwisata. Orang akan
membelanjakan uangnya untuk bepergian dan menikmati karya-karya seni. Peristiwa-peristiwa kesenian yang akan
menjadi perhatian utama dibandingkan peristiwa-peristiwa olahraga yang sebelumnya lebih mendapat tempat.
“Berpikir lokal, bertindak global”, seperti yang dikemukakan Naisbitt itu, pastilah akan menempatkan masalah bahasa dan
sastra, khususnya bahasa dan sastra Indonesia, sebagai sesuatu yang penting di dalam era globalisasi. Proses berpikir
tidak akan mungkin dilakukan tanpa bahasa. Bahasa yang akrab untuk masyarakat (lokal) Indonesia adalah bahasa
Indonesia. Proses berpikir dan kemudian dilanjutkan proses kreatif, proses ekspresi, akan melahirkan karya-karya sastra,
yakni karya sastra Indonesia.
Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia
Di dalam sejarahnya, bahasa Indonesia telah berkembang cukup menarik. Bahasa Indonesia yang tadinya hanya
merupakan bahasa Melayu dengan pendukung yang kecil telah berkembang menjadi bahasa Indonesia yang besar.
Bahasa ini telah menjadi bahasa lebih dari 200 juta rakyat di Nusantara Indonesia. Sebagian besar di antaranya juga telah
menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama. Bahasa Indonesia yang tadinya berkembang dari bahasa Melayu
itu telah “menggusur” sejumlah bahasa lokal (etnis) yang kecil. Bahasa Indonesia yang semulanya berasal dari bahasa
Melayu itu bahkan juga menggeser dan menggoyahkan bahasa etnis-etnis yang cukup besar, seperti bahasa Jawa dan
bahasa Sunda. Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa dari masyarakat baru yang bernama masyarakat Indonesia. Di
dalam persaingannya untuk merebut pasar kerja, bahasa Indonesia telah mengalahkan bahasa-bahasa daerah yang ada
di Indonesia. Bahasa Indonesia juga telah tumbuh dan berkembang menjadi bahasa yang modern pula.
Perkembangan yang demikian akan terus berlanjut. Perkembangan tersebut akan banyak ditentukan oleh tingkat
kemajuan masyarakat dan peranan yang strategis dari masyarakat dan kawasan ini di masa depan. Diramalkan bahwa
masyarakat kawasan ini, yaitu Indonesia, Malasyia, Thailand, Vietnam, Brunai Darussalam, dan Filipina akan menjadi
salah satu global-tribe yang penting di dunia. Jika itu terjadi, bahasa Indonesia (lebih jauh bahasa Melayu) juga akan
menjadi bahasa yang lebih bersifat global. Proses globalisasi bahasa Melayu (baru) untuk kawasan Nusantara, dan
bahasa-bahasa Melayu untuk kawasan Asia Pasifik (mungkin termasuk Australia) menjadi tak terelakkan. Peranan
kawasan ini (termasuk masyarakatnya, tentu saja) sebagai kekuatan ekonomi, industri dan ilmu pengetahuan yang baru di
dunia, akan menentukan pula bagaimana perkembangan bahasa Indonesia (dan bahasa Melayu) modern. Bahasa dan
sastra Indonesia sudah semenjak lama memiliki tradisi kosmopolitan. Sastra modern Indonesia telah menggeser dan
menggusur sastra tradisi yang ada di pelbagai etnis yang ada di Nusantara.
Perubahan yang terjadi itu tidak hanya menyangkut masalah struktur dan bahasa, tetapi lebih jauh mengungkapkan
permasalahan manusia baru (atau lebih tepat manusia marginal dan tradisional) yang dialami manusia di dalam sebuah
proses perubahan. Lihatlah tokoh-tokoh dalam roman dan novel Indonesia. Lihatlah tokoh Siti Nurbaya di dalam roman
Siti Nurbaya, tokoh Zainudin di dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, tokoh Hanafi di dalam roman Salah
Asuhan, tokoh Tini, dan Tono di dalam novel Belenggu, sampai kepada tokoh Lantip di dalam roman Priyayi. Mereka
adalah tokoh-tokoh yang berusaha masuk ke dunia yang baru, dunia yang global, dengan tertatih-tatih.
Dengan demikian, satra Indonesia (dan Melayu) modern pada hakikatnya adalah sastra yang berada pada jalur yang
mengglobal itu. Sebagaimana dengan perkembangan bahasa Indonesia, sastra Indonesia tidak ada masalah dalam
globalisasi karena ia memang berada di dalamnya. Yang menjadi soal adalah bagaimana menjadikan bahasa dan sastra
itu memiliki posisi yang kuat di tengah-tengah masyarakatnya. Atau lebih jauh, bagaimana langkah untuk menjadikan
masyarakatnya memiliki posisi kuat di tengah-tengah masyarakat dunia (lainnya).
Kalau merujuk kepada pandangan-pandangan Alvin Toffler atau John Naisbitt, dua peramal masa depan tanpa bola-bola
kristal, bahasa Indonesia dan sastra Indonesia akan menjadi bahasa (dan sastra) yang penting di dunia.
Politik Bahasan dan Politik Sastra
Proses globalisasi kebudayaan yang terjadi mengakibatkan berubahnya paradigma tentang “pembinaan” dan
“pengembangan” bahasa. Bahasa Indonesia pada masa depan bukan hanya menjadi bahasa negara, melainkan juga
menjadi bahasa dari suatu tribe (suku) yang mengglobal. Bahasa tersebut harus mampu mengakomodasikan
perubahan-perubahan dan penyesuaian-penyesuaian yang mungkin dihadapi. Mekanisme pembinaan dan
pengembangan tidaklah ditentukan oleh suatu lembaga, seperti Pusat Bahasa, tetapi akan amat ditentukan oleh
mekanisme “pasar”. Pusat Bahasa tidak perlu terlalu rewel dengan “bahasa yang baik dan benar”. Politik bahasa yang
terlalu bersifat defensif harus ditinggalkan.
Di dalam kehidupan sastra juga diperlukan suatu politik sastra. Sastra Indonesia harus lebih dimasyarakatkan, tidak saja
untuk bangsa Indonesia, tetapi juga untuk masyarakat yang lebih luas. Penerbitan karya-karya sastra harus dilakukan
dalam jumlah yang besar. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi semestinya menjadi tempat untuk membaca karya-karya
sastra. Pengajaran sastra haruslah menjadikan karya-karya sastra sebagai sumber pengajaran.
Di dalam proses globalisasi, posisi yang harus diambil bukan sebagai objek perubahan, melainkan harus menjadi
subyek. Bahasa dan sastra (Indonesia) amat potensial menjadi bahasa dan sastra yang diperhitungkan di dalam dunia
global.
Jika dunia Melayu (dan Indonesia) akan hadir sebagai salah satu global-tribe di dunia dan kawasan Asia Pasifik, bahasa
dan sastranya harus juga berkembang ke arah itu. Bahasa Melayu (dan Indonesia) harus siap menerima peranan yang
demikian. Sastra Indonesia harus tetap menjadi sastra yang unik di tengah-tengah dunia yang global. Bahasa dan sastra
Indonesia (Melayu) harus mampu menjadikan kekuatan budaya (global-trible) yang baru itu. Untuk itu, diperlukan suatu
politik bahasa ( dan sastra) yang terbuka, bukan bersifat defensif.
Pages
Calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Mar | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | 31 | |||||



